aku tak lelah melainkan kalah
kalah pada pesona suara yang dulu kuanggap biasa
aku tak takut melainkan kalut
kalut jika mata-mata indah itu memerah tercoreng basah
aku tak marah melainkan resah
resah rasa-rasa itu terus ruah membuncah
aku kejam memang
menawarkan sebentang-sebentang
bukan semua sejauh pandang
dan aku pecundang memang
yang mungkin karena sebentang-sebentang,
sedetik saja tak pernah dipandang