Di hilir malam.
Bintang terang di atas sana buyarkan lamunku.
Selimuti pikirku dengan takut.
Juga harapku.
Akankah kelak dapat kugapai?
Kembali pesimis, menghadap datangnya hulu pagi.
--------------------------
penting?
Saturday, May 13, 2006
Thursday, May 11, 2006
Open House Arsitektur 2006
Open House Arsitektur 2006
******
Fotografi Arsitektur
Diskusi Santai
Arsitek Tour
Arsitektur Tips n Trik
Sayembara Desain
Fun Games
Arsitektur Gathering
******
Don't miss it!!
25-27 Mei 2006
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin
Presented by:
Komunitas Arsitektur 2002 Universitas Hasanuddin
******
Fotografi Arsitektur
Diskusi Santai
Arsitek Tour
Arsitektur Tips n Trik
Sayembara Desain
Fun Games
Arsitektur Gathering
******
Don't miss it!!
25-27 Mei 2006
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin
Presented by:
Komunitas Arsitektur 2002 Universitas Hasanuddin
Saturday, May 06, 2006
- + dua kali + -
Sudahlah.
Sudah ndak ada lagi waktu yang tersisa untuk menyalahkan apa dan siapa. Biarkan saja. Hanya si pengecut yang menyalahkan orang lain. Dan hanya si cengeng yang menyalahkan dirinya sendiri. Bukan kamu yang mau. Toh datangnya tiba-tiba. Berdoa saja benar. Itu hanya sementara.
Sudahlah.
Kamu juga mesti ingat. Ingat sama janji kecilmu waktu kamu masih kecil. Kamu ndak bakalan pernah benci orang lain. Ingat, kamu pernah bilang, "jangan pernah salahkan orang lain. Kalau salah, itu hanya karena keterbatasan dirinya, sehingga tidak bisa melakukan yang benar. "
Sudahlah.
Jangan juga salahkan mereka. Mereka begitu karena kamu begini. Mereka ada karena kamu yang duluan mengadakan. Tapi kamu juga ndak salah. Kembali ke awal tadi. Bukan kamu yang mau. Toh datangnya tiba-tiba.
Sudahlah.
Pegang saja janjimu. Meski ada satu pertimbangan yang kamu lupa, tapi sudahlah. Dari dulu kamu selalu pegang janji. Jadi, sekarang dipegang lagi. Toh, semuanya untuk kebaikan. Kan?
Sudahlah.
Meski sangat banyak, lupakan saja rencana-rencana kecil ndak pentingmu. Kalau kamu berhasil, berarti kamu sudah menang melawannya dalam mimpi.
Sudahlah.
Sekarang, mungkin sudah waktunya kamu majukan satu kakimu di depan. Kalau masih salah lagi,... berarti kamu bodoh. Hanya orang bodoh yang tau salah dan benar, tapi masih juga salah. Kecuali, batasan untuk berbuat yang benar itu masih ada.
Sudahlah.
Dua kali. Alasannya beda. Tapi niatnya sama.
Sudahlah.
Sudah ndak ada lagi waktu yang tersisa untuk menyalahkan apa dan siapa. Biarkan saja. Hanya si pengecut yang menyalahkan orang lain. Dan hanya si cengeng yang menyalahkan dirinya sendiri. Bukan kamu yang mau. Toh datangnya tiba-tiba. Berdoa saja benar. Itu hanya sementara.
Sudahlah.
Kamu juga mesti ingat. Ingat sama janji kecilmu waktu kamu masih kecil. Kamu ndak bakalan pernah benci orang lain. Ingat, kamu pernah bilang, "jangan pernah salahkan orang lain. Kalau salah, itu hanya karena keterbatasan dirinya, sehingga tidak bisa melakukan yang benar. "
Sudahlah.
Jangan juga salahkan mereka. Mereka begitu karena kamu begini. Mereka ada karena kamu yang duluan mengadakan. Tapi kamu juga ndak salah. Kembali ke awal tadi. Bukan kamu yang mau. Toh datangnya tiba-tiba.
Sudahlah.
Pegang saja janjimu. Meski ada satu pertimbangan yang kamu lupa, tapi sudahlah. Dari dulu kamu selalu pegang janji. Jadi, sekarang dipegang lagi. Toh, semuanya untuk kebaikan. Kan?
Sudahlah.
Meski sangat banyak, lupakan saja rencana-rencana kecil ndak pentingmu. Kalau kamu berhasil, berarti kamu sudah menang melawannya dalam mimpi.
Sudahlah.
Sekarang, mungkin sudah waktunya kamu majukan satu kakimu di depan. Kalau masih salah lagi,... berarti kamu bodoh. Hanya orang bodoh yang tau salah dan benar, tapi masih juga salah. Kecuali, batasan untuk berbuat yang benar itu masih ada.
Sudahlah.
Dua kali. Alasannya beda. Tapi niatnya sama.
Sudahlah.
Friday, May 05, 2006
.: yang lain :.
Seperti juga yang lain, aku punya uang. Tapi ndak seperti yang lain, uangku ndak banyak. Cuma tiga ratus ribu rupiah. Kalau ditulis, angka nol-nya ada 5. Itu artinya belum banyak.
-----------------------------------------
ah, ingin aku menangis saja melihat diriku sendiri. Katanya, kalau aku lebih teratur lagi, aku pasti bisa. Ah, seandainya ada mama di sini. Pasti akan lebih baik lagi.
Si anak manja itu lari dari rumahnya yang sedang sepi. Pergi saja dia. Merasa bisa. Padahal dia yakin bahwa dia belum bisa.
Kawan, sugestimu ndak berhasil!
Ah, seandainya masih ada bapak di sini. Pasti akan lebih baik lagi.
-----------------------------------------
Juga seperti yang lain, aku punya cita-cita. Tapi ndak seperti yang lain, aku pesimis.
-----------------------------------------
ah, ingin aku menangis saja melihat diriku sendiri. Katanya, kalau aku lebih teratur lagi, aku pasti bisa. Ah, seandainya ada mama di sini. Pasti akan lebih baik lagi.
Si anak manja itu lari dari rumahnya yang sedang sepi. Pergi saja dia. Merasa bisa. Padahal dia yakin bahwa dia belum bisa.
Kawan, sugestimu ndak berhasil!
Ah, seandainya masih ada bapak di sini. Pasti akan lebih baik lagi.
-----------------------------------------
Juga seperti yang lain, aku punya cita-cita. Tapi ndak seperti yang lain, aku pesimis.
Wednesday, May 03, 2006
--untitled--
------------------------------------------
Aku pikir, dengan mengeluarkannya berarti dia akan pergi. Tapi tidak. Dia masih ada. Dia di sini. Dia masih di sini. Selalu. Setiap hari. Dari bangunku, hingga tidurku kembali. Aku mencoba melawannya. Dan yang aku tau, aku lebih sering melawannya dalam mimpi.
------------------------------------------
Aku pikir, dengan mengeluarkannya berarti dia akan pergi. Tapi tidak. Dia masih ada. Dia di sini. Dia masih di sini. Selalu. Setiap hari. Dari bangunku, hingga tidurku kembali. Aku mencoba melawannya. Dan yang aku tau, aku lebih sering melawannya dalam mimpi.
------------------------------------------
Subscribe to:
Posts (Atom)